Sejarah Desa

Sejarah Desa Pamarayan

Desa Pamarayan merupakan desa yang berada di wilayah Kecamatan Pamarayan Kabupaten Serang-Banten. Secara geografis, Desa Pamarayan berbatasan dengan Desa Binong disebelah Timur, Desa Kampung Baru di Utara, Damping dan Sangiang di Selatan serta Desa Panyabrangan (kecamatan Cikeusal) di Barat. Letaknya yang tepat berada di pusat kecamatan Pamarayan, membuatnya sebagai desa yang padat penduduk dan menjadi pusat keramaian berbagai aktivitas di wilayah kecamatan Pamarayan.

Pamarayan atau dalam ejaan dahulu disebut Pamarajan merupakan suatu nama wilayah administratif untuk level distrik dan Kawedanaan pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Pamarayan masuk dalam Wordenboek van Nederlandsch Indie tahun 1916 sebagai salah satu wilayah administratif distrik di bawah Karesidenan Banten dan Regentschappen Serang.  Dan dalam buku Alphabetisch Register van de Administratieve (Bestuurs) En Adatrechtlijke Indeeling van Nederlandsch Indie. Dan dalam Blz. 16. 18e, onder (rechter helft) Pamajaran. Juga dalam dokumen Bijblad Op Het Staatsblad Van Nederlandsch Indie tahun 1927.

Pamarayan juga dikenal dengan nilai-nilai historisnya. Baik berupa bangunan peninggalan masa lalu (material culture) maupun peristiwa sejarah yang berkaitan dengan pamarayan terutama yang termuat dalam berbagai literasi, salah satunya buku karya Sartono Kartodirjo berjudul  Revolt Peasant in Bantam 1888. Selain dari pada itu, Pamarayan juga kaya akan tradisi lisan, cerita rakyat maupun legenda yang berkenaan dengan berbagai tempat di Pamarayan.

Desa Pamarayan pada awalnya merupakan suatu kawedanaan yang statusnya berada diatas kecamatan dibawah kabupaten. Mengingat pada waktu itu pamarayan merupakan suatu wilayah administratif yang para pegawainya dibawah koordinasi langsung dari Regentschap. Sementara Desa tidak termasuk dalam struktur birokrasi pemerintah kolonial dan bukan merupakan anggota korp pegawai dalam negeri Hindia Belanda. Tidak diketahui secara persis kapan Desa Pamarayan terbentuk. Sebab dalam penelusuruan dibeberapa tempat seperti Arsip Nasional, Perpusnas dan penelusuran beberapa arsip digital tidak ditemukan kata “Desa Pamarayan” setidaknya pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Sementara Desa-desa lain di Kecamatan Pamarayan sudah ada terlebih dahulu. Contohnya seperti Desa Binong, Desa Kampung Baru, Desa Damping dan beberapa Desa lainnya yang pada tahun 1930an sudah dituliskan dalam berbagai dokumen dan surat kabar di Hindia Belanda (Indonesia). Itu sebabnya dalam naskah/dokumen yang dimiliki oleh Desa Pamarayan tentang daftar nama kepala desa dari masa ke masa dimulai pada tahun 1947. Ini mengindikasikan bahwa memang ketika pada masa pemerintah kolonial Hindia Belanda, Desa Pamarayan belum ada, sebab status administratifnya saat itu ialah distrik/ kawedanaan.

Berikut nama-nama kepala Desa Pamarayan :

Tahun 1947-1951 Mohammad Alwi

1952-1956 Mohammad Alwi

1957-1961 M. Rafe’i

1962-1966 M. Rafe’i

1967-1971 M. Rafe’i

1972-1976 M. Rafe’i

1977-1981 M. Kosim

1982-1999 Aminudin

2000-2008 Amsar

2009-2013 H. Didi Surnadi Mulyana

2014-2020 Nurudin

Letak Desa Pamarayan berada dipusat kecamatan, sehingga membuatnya menjadi desa yang padat populasi dan ramai oleh berbagai aktivitas terutama di wilayah Kecamatan Pamarayan.  Jumlah penduduk di Pamarayan pada tahun 1920an bahkan merupakan yang terbanyak dan terpadat se-Kabupaten Serang sebagaimana yang tercantum dalam buku karya Mufti Ali yang berjudul   Penelusuruan tentang Naskah dan Arsip di Banten.